Beranda | Artikel
Kewajiban Berpegang Teguh Pada Sunnah
21 jam lalu

Kewajiban Berpegang Teguh Pada Sunnah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minnah ‘Alim Ar-Raqib. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 26 Rabiul Awal 1448 H / 8 September 2026 M.

Kajian Hadtis Tentang Kewajiban Berpegang Teguh Pada Sunnah

Pembahasan sebelumnya memuat hadits dari Mujahid. Ia menuturkan:

كُنَّا مَعَ ابْنِ عُمَرَ فِيْ سَفَرٍ فَمَرَّ بِمَكَانٍ فَحَادَ عَنْهُ، فَسُئِلَ: لِمَ فَعَلْتَ ذٰلكَ؟ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَعَلَ هٰذَا، فَفَعَلْتُ

“Kami pernah bersama Ibnu Umar dalam suatu perjalanan. Lalu dia melewati suatu tempat dan menghindarinya, maka dia ditanya, ‘Mengapa kamu melakukan itu?’ Dia menjawab, ‘Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan ini, maka aku melakukannya’.” (HR. Ahmad dan al-Bazzar)

Peristiwa ini menunjukkan semangat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dalam mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seandainya ia tidak melakukan hal tersebut di tempat itu, sebenarnya tidak mengapa. Namun, hal ini memperlihatkan kesungguhannya dalam mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hadits berikutnya diriwayatkan oleh Imam Al-Mundziri rahimahullahu Ta’ala dari Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berdiri di tengah-tengah kami, lalu beliau bersabda,

أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ: ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Ketahuilah, sesungguhnya Ahlul Kitab sebelum kalian telah terpecah belah menjadi 72 golongan. Dan sesungguhnya umat ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan: 72 golongan berada di dalam neraka, dan satu golongan berada di dalam surga, yaitu Al-Jama’ah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih.)

Dalam riwayat Abu Dawud terdapat tambahan bahwa akan muncul di tengah umat ini sekelompok orang yang dikuasai hawa nafsu. Hawa nafsu itu menyusup ke dalam tubuh mereka sebagaimana penyakit anjing gila menyusup ke tubuh orang yang terkena gigitannya. Tidak ada satu urat atau sendi pun melainkan penyakit tersebut memasukinya.

Sekilas Biografi Muawiyah bin Abi Sufyan

Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu adalah putra Abu Sufyan. Nama Abu Sufyan ialah Sakhr bin Harb bin Umayyah bin Abd Syams.

Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu bernama lengkap Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah al-Quraisyi al-Umawi. Beliau juga dikenal dengan nama panggilan Abu Abdurrahman. Beliau adalah amirul mukminin dan Malikul Islam.

Adz-Dzahabi rahimahullah menyebut Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai amirul mukminin dan Malikul Islam. Beliau merupakan raja pertama dalam sejarah Islam. Ibunya bernama Hindun binti Utbah bin Rabi’ah.

Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu memeluk Islam sejak Perjanjian Hudaibiyah pada tahun keenam Hijriah. Namun, beliau menyembunyikan keislamannya dan tidak menampakkannya kepada ayahnya, Abu Sufyan.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memasuki Kota Makkah pada tahun kedelapan Hijriah dalam peristiwa Fathu Makkah, Muawiyah menampakkan keislamannya. Beliau bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan disambut oleh beliau. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menulis surat kepada Muawiyah.

Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Perang Hunain dan Perang Thaif. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kepadanya bagian dari harta rampasan Perang Hunain berupa seratus ekor unta dan empat puluh uqiyah yang ditimbang oleh Bilal.

Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu merupakan salah seorang penulis wahyu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau juga didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Ya Allah, ajarilah Muawiyah Al-Kitab dan ilmu berhitung, serta lindungilah dia dari azab.” Doa ini diriwayatkan oleh Imam Al-Jurri dalam kitab Asy-Syari’ah.

Ketika Umar bin Khattab menjadi amirul mukminin, beliau mengangkat Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai gubernur di Damaskus, Syam, menggantikan saudaranya, Yazid bin Abi Sufyan, yang telah wafat. Muawiyah tetap menjadi gubernur hingga Umar bin Khattab terbunuh.

Setelah Utsman bin Affan menjadi khalifah, beliau tetap mengangkat Muawiyah sebagai gubernur di negeri Syam. Muawiyah memimpin Syam selama dua puluh tahun sebagai amir.

Kemudian Muawiyah bin Abi Sufyan dinobatkan sebagai khalifah. Para sahabat sepakat menjadikan beliau sebagai pemimpin kaum muslimin setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Muawiyah menjadi khalifah selama dua puluh tahun.

Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu wafat pada pertengahan bulan Rajab tahun 60 Hijriah dalam usia 78 tahun. Semoga Allah meridai beliau.

Perpecahan Umat Menjadi Golongan-Golongan

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa umat sebelum kalian dari kalangan Ahlulkitab telah terpecah menjadi 72 golongan. Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Sebanyak 72 golongan masuk neraka, sedangkan satu golongan masuk surga. Golongan yang selamat itu adalah Al-Jamaah.”

Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggambarkan bagaimana hawa nafsu masuk ke dalam kelompok-kelompok yang menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Hawa nafsu yang menyusupi firqah-firqah dapat diibaratkan seperti virus anjing gila. Ketika anjing gila menggigit seseorang, virusnya masuk ke dalam tubuh dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Demikian pula firqah-firqah yang menyimpang dimasuki hawa nafsu sehingga mereka mengikutinya.

Hal ini menunjukkan betapa hawa nafsu meliputi kelompok-kelompok yang menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu kelompok-kelompok yang jauh dari tuntunan Allah dan Rasul-Nya serta pemahaman salafus saleh, para sahabat, dan generasi setelahnya.

Hadits ini menjelaskan informasi dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sosok yang sangat jujur dan tidak pernah berdusta, bahwa umat-umat sebelum umat Islam telah terpecah belah. Yahudi dan Nasrani disebutkan dalam hadits ini telah terbagi menjadi 72 golongan.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menginformasikan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Perpecahan itu benar-benar terjadi sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Induk Firqah-Firqah yang Menyimpang

Di antara tokoh yang menyebutkan induk firqah-firqah tersebut adalah Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Beliau menyebut empat induk firqah, yaitu Khawarij, Rafidhah, Murji’ah, dan Mu’tazilah. Dari empat induk ini kemudian muncul firqah-firqah lainnya hingga mencapai jumlah yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Lihat juga: Empat Kelompok Pokok yang Menyimpang

Dalam riwayat Abu Dawud, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa akan muncul di tengah umat beliau kelompok-kelompok yang dimasuki hawa nafsu, sebagaimana virus anjing gila masuk ke dalam tubuh seseorang. Penyebutan kata al-ahwa dalam bentuk jamak menunjukkan banyaknya hawa nafsu yang menyusupi firqah-firqah tersebut.

Penyebutan itu merupakan peringatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang banyaknya hawa nafsu yang masuk ke dalam kelompok-kelompok yang menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hal itu juga menjadi isyarat akan munculnya berbagai macam bid’ah dalam agama Allah.

Hal yang serupa dengan penyebutan al-ahwa dalam bentuk jamak terdapat dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla pada Surah Al-An’am ayat 153. Allah menyebut jalan-Nya yang lurus dalam bentuk tunggal, kemudian melarang mengikuti jalan-jalan yang banyak.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah jalan itu dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 153)

Ayat ini menunjukkan kewajiban berpegang teguh kepada manhaj salafus saleh, yaitu manhaj Allah dan Rasul-Nya yang diikuti oleh para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Hadits ini menjadi dalil kewajiban mengikuti jalan salafus saleh dan larangan mengikuti jalan-jalan yang banyak, yaitu firqah-firqah yang menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Ayat ini menjelaskan bahwa berpegang teguh kepada manhaj salafus saleh merupakan bagian dari takwa yang Allah wasiatkan kepada kita. Mengikuti metode beragama para salaf merupakan bagian dari ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena pada akhir ayat ini, Allah memerintahkan untuk mengikuti jalan yang satu dan melarang mengikuti jalan-jalan yang banyak.

Orang yang ingin selamat dari azab Allah, api neraka, dan penyimpangan-penyimpangan harus mengikuti jalan salafus saleh, yaitu jalan Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tidak ada jalan keselamatan selain jalan tersebut.

Peringatan terhadap Firqah-Firqah Sesat

Hadits ini juga menjadi peringatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umat Islam tentang munculnya firqah-firqah sesat dan kelompok-kelompok yang menyimpang. Kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengikuti Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman para salaf akan berhadapan dengan munculnya berbagai firqah tersebut. Karena itu, umat Islam perlu berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam penyimpangan.

Penting untuk mengetahui ciri-ciri al-firqah an-najiyah, yaitu kelompok yang selamat, yakni Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Bid’ah sebagai Penyakit yang Meracuni

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan tentang bidah dan kelompok-kelompok yang menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka diumpamakan seperti virus anjing gila. Bid’ah, apabila telah masuk ke dalam diri seseorang, akan meracuni dirinya.

Ahlulbid’ah sulit bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena menganggap bid’ah mereka sebagai bagian dari agama dan sebagai ajaran yang terbaik, padahal bidah itu jauh dari agama.

Keadaan ini berbeda dengan orang yang berbuat maksiat. Pelaku maksiat lebih mudah bertobat karena mengetahui bahwa perbuatannya merupakan dosa. Orang yang minum minuman keras, berzina, atau melakukan kemaksiatan lain menyadari kesalahan dan dosanya.

Ahlulbid’ah tidak demikian. Bid’ah mereka dikemas dengan agama sehingga dianggap sebagai agama Allah, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berlepas diri dari bid’ah-bid’ah tersebut. Karena itu, mereka sulit bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam hadits ini, penyakit bid’ah diibaratkan seperti virus anjing gila. Apabila seseorang digigit anjing gila, virusnya akan merasuk ke seluruh tubuh. Tidak ada persendian dan urat yang luput darinya. Para ulama menyebutkan bahwa salah satu ciri anjing gila ialah mata yang memerah dan ekornya diletakkan di antara kedua kakinya. Gigitan anjing gila sangat berbahaya karena virusnya dapat merasuk ke dalam diri seseorang dan kemungkinan besar tidak dapat disembuhkan.

Demikian pula keadaan ahlulbid’ah. Ketika bidah telah merasuk, mereka memandang segala sesuatu sebagai baik. Bid’ah yang mereka lakukan dianggap sebagai ajaran agama Allah, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berlepas diri dari bidah-bidah tersebut.

Berpegang Teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah

Hadits ini menjelaskan kewajiban berpegang teguh pada Kitabullah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kaum Muslimin diperintahkan mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan sunnah dengan manhaj salaf, yaitu metode beragama para sahabat yang telah diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Para sahabat telah mendapatkan rida Allah. Siapa yang ingin memperoleh rida Allah hendaknya mengikuti jalan orang-orang yang telah diridai-Nya.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ ۙ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah [9]: 100)

Seorang hamba yang ingin mendapatkan ridha Allah hendaknya mengikuti jalan Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Inilah pedoman dan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Firqah-firqah dan kelompok-kelompok yang menyimpang, seperti Khawarij, Muktazilah, Rafidah, Murjiah, dan yang lainnya, harus dijauhi karena menyimpang dari jalan Ahlus Sunnah waljamaah.

Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa berpegang teguh pada pijakan para sahabat radhiyallahu ‘anhum merupakan satu-satunya jaminan bagi seorang Muslim agar tidak tersesat dan menyimpang ke kanan maupun ke kiri.

Agama dan metode beragama para sahabat sangat jelas. Kaum Muslimin diperintahkan untuk mengikuti mereka.

Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang waspada terhadap kelompok-kelompok sesat, menjauhi perbuatan bid’ah, tidak mengada-adakannya, dan senantiasa mengikuti atsar (jalan para sahabat). Hamba itu mencari jalan yang lurus dan selalu memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56530-kewajiban-berpegang-teguh-pada-sunnah/